Pendidikan Geografi Magister (S2)

Penelitian

Memahami Pembelajaran Berdiferensiasi di Kalangan Guru Geografi: Dampak Pelatihan Kurikulum di Sekolah Menengah Atas di Indonesia

Sugiyanto1, Rita Noviani2, Chatarina Muryani3, Singgih Prihadi4, Imasti Dhani Pratiwi5

Penelitian ini mengkaji pemahaman guru geografi terhadap pembelajaran diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah menengah atas di Indonesia. Menyadari kebutuhan akan metode pengajaran yang fleksibel untuk memenuhi kebutuhan siswa yang beragam, penelitian ini menyoroti relevansi pembelajaran diferensiasi dalam pendidikan geografi. Menggunakan survei deskriptif kuantitatif, penelitian ini mengumpulkan data dari 59 guru melalui kuesioner online berdasarkan empat dimensi inti diferensiasi: konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar guru menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap pendekatan ini, terutama mereka yang telah mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka. Temuan ini menyarankan bahwa pengembangan profesional memainkan peran kunci dalam membekali guru dengan keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi secara efektif. Studi ini berkontribusi pada bidang pendidikan geografi dengan menekankan pentingnya pelatihan guru yang terarah dalam reformasi kurikulum.

Imasti Dhani Pratiwi*, Rita Noviani

Kota Surakarta merupakan kawasan perkotaan yang padat penduduk, sebagian besar terdiri dari zona perumahan. Kawasan semacam ini secara inheren memiliki potensi tinggi terhadap risiko bencana, termasuk bahaya kebakaran. Kebakaran dapat menyebabkan kerugian material dan non-material yang signifikan; oleh karena itu, keberadaan dan aksesibilitas stasiun pemadam kebakaran menjadi faktor kritis dalam memastikan respons darurat yang efektif. Analisis aksesibilitas pos pemadam kebakaran sangat penting untuk memastikan manajemen darurat yang optimal di kawasan padat penduduk. Studi ini menawarkan pendekatan spasial berbasis analisis jaringan yang diverifikasi dengan data lapangan, sehingga memberikan kontribusi metodologis dalam pemetaan layanan darurat di kawasan perkotaan. Pola distribusi, yang ditunjukkan oleh Rasio Tetangga Terdekat (NNR) sebesar 2,67, menunjukkan bahwa pos pemadam kebakaran tersebar secara spasial dan tidak terletak secara acak. Analisis aksesibilitas dilakukan menggunakan metode analisis jaringan, berdasarkan jarak maksimum 2.500 meter, sesuai dengan Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 20 Tahun 2009, serta parameter waktu perjalanan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Kementerian Perhubungan Nomor 11 Tahun 2025 mengenai pengaturan batas kecepatan. Validasi lapangan pada 370 segmen jalan menunjukkan akurasi keseluruhan yang sangat tinggi sebesar 98,11% untuk data arah jalan yang mendukung analisis berbasis jarak, dan akurasi 80,54% untuk perkiraan waktu perjalanan. Penilaian aksesibilitas wilayah yang dihasilkan menunjukkan bahwa 32,75% wilayah Surakarta dikategorikan sebagai Sangat Aksesibel, 54,48% sebagai Aksesibel, dan 14,77% sebagai Tidak Aksesibel, berdasarkan lokasi stasiun pemadam kebakaran yang ada. Temuan ini menyoroti ketidakmerataan spasial dalam cakupan layanan, yang perlu diatasi melalui pendekatan perencanaan spasial yang inklusif dan berbasis data. Analisis ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan layanan darurat kebakaran dan mengurangi kerugian potensial akibat kebakaran, sekaligus menawarkan aplikasi untuk layanan publik lainnya di kawasan perkotaan padat penduduk.

Singgih Prihadi¹*, Chatarina Muryani², Sugiyanto3, Rita Noviani4, Imasti Dhani Pratiwi5

Pendidikan geografi di era digital native menuntut siswa untuk mengembangkan pemikiran kritis, kreatif, dan inovatif melalui pendekatan spasial. Belajar geografi bukan hanya tentang mempelajari teori, tetapi tentang belajar secara mendalam dengan mengoptimalkan teknologi dan data geospasial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan karakteristik Geospatial Deep Learning dalam pendidikan geografi serta menganalisis potensi Geospatial Deep Learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir spasial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan melibatkan 10 informan berupa guru geografi dan wakil kepala sekolah SMA di Kota Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, di mana informan dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dan observasi praktik pengajaran. Peneliti menggunakan model analisis data interaktif. Validitas data yang digunakan ditriangulasi berdasarkan sumber dan metode. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran Mendalam Geospasial dalam konteks pendidikan geografi SMA di Surakarta telah memanfaatkan data geospasial untuk meningkatkan keterampilan berpikir spasial siswa, meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkan. Guru telah berusaha membantu siswa menggunakan data dari Google Earth untuk memperkuat analisis mereka. Potensi Pembelajaran Mendalam Geospasial dalam pembelajaran geografi sangat signifikan, terutama dalam mengembangkan keterampilan berpikir spasial. Guru-guru memperhatikan adanya peningkatan dalam kemampuan representasi spasial, yang terlihat dari kemampuan siswa untuk memvisualisasikan dan memanipulasi data spasial dengan cara yang lebih menarik, interaktif, dan informatif.

Chatarina Muryani1,2*, Sugiyanto1, Rita Noviani1,2, Singgih Prihadi1, Imasti Dhani Pratiwi1, Fitria Dewi Kartika1

Mangrove adalah ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial yang penting, namun keberadaannya rentan terhadap degradasi akibat konversi lahan dan aktivitas manusia. Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove yang terus mengalami dinamika perubahan, sehingga diperlukan studi spasial untuk mendukung pengelolaan yang berkelanjutan. Studi ini menganalisis distribusi dan perubahan luas hutan mangrove di Kabupaten Pasuruan menggunakan pendekatan Indeks Vegetasi Mangrove (MVI) berdasarkan citra Sentinel-2 pada tahun 2018 dan 2025. Analisis dilakukan menggunakan platform Google Earth Engine dan ArcMap 10.8, dengan tahap pra-pemrosesan yang meliputi pemrosesan citra, pembuatan komposisi band, penerapan algoritma MVI, dan uji akurasi menggunakan matriks fusi. Hasil menunjukkan bahwa luas mangrove meningkat sebesar 122,21 ha atau sekitar 13,72%, dari 890,81 ha pada tahun 2018 menjadi 1.013,02 ha pada tahun 2025. Peningkatan paling signifikan terjadi di Kabupaten Bangil dan Kraton, sementara kabupaten lain mengalami pertumbuhan relatif kecil. Uji akurasi pemetaan menunjukkan bahwa nilai Koefisien Kappa meningkat dari 0,72 (kategori baik) pada tahun 2018 menjadi 0,79 (kategori sangat baik) pada tahun 2025, mengonfirmasi keandalan MVI dalam mendeteksi mangrove secara akurat. Kesimpulannya, pertumbuhan mangrove di Kabupaten Pasuruan dipengaruhi oleh faktor lingkungan di muara sungai dan program rehabilitasi mangrove pemerintah. Oleh karena itu, pemantauan berbasis penginderaan jauh harus terus dikembangkan untuk mendukung konservasi dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem pesisir.

Kota Surakarta menjadi pusat perkembangan kawasan andalan SUBOSUKOWONOSRATEN. Perkembangan fisik kekotaan Kota Surakarta tanpa disadari telah merembet pada wilayah pinggiran. Meluasnya Kota Surakarta ini digambarkan dengan perubahan fisik guna lahannya, sosial dan ekonomi ke arah kekotaan yang disebut urbanisasi. Secara spasial perkembangan perkotaan di Kawasan pinggiran Kota Surakarta cenderung ke arah selatan menuju ke arah Kabupaten Sukoharjo. Sejalan dengan laju urbanisasi yang tidak terbendung tentunya pemanfaatan urbanisasi harus dimaksimalkan sebagai peluang pembangunan.Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat perkembangan urbanisasi spasial yang terjadi di wilayah pinggiran Kota Surakarta. Metode dan teknik analisis yang digunakan adalah metode deduktif yaitu berdasarkan pandangan para ahli dan teori-teori untuk mengidentifikasi variabel dan indikator yang kemudian diuji kesesuaiannya di lapangan. Serta overlay peta guna lahan 2015-2022 untuk mengetahui perubahan guna lahan dan diikuti dengan penentuan kriteria tingkat urbanisasi berdasarkan kondisi Kota Surakarta. Luaran dari penelitian ini adalah prosiding terindeks Scopus atau jurnal terindeks Scopus dan EBook berISBN tentang profil atau hasil penelitian grup riset dengan penerbit anggota IKAPI.

Urbanisasi telah mengubah pola bentang alam dan fungsi ekologis yang mengakibatkan penurunan jasa ekosistem jasa dan mengakibatkan banyak masalah ekologi dan lingkungan, terutama di daerah yang mengalami urbanisasi yang cepat. Pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara urbanisasi dan jasa ekosistem sangat penting untuk keberlanjutan kawasan di masa depan dan pengembangan kebijakan yang relevan. Tujuan dari studi ini untuk menilai hubungan antara urbanisasi dan jasa ekosisten di kawasan perkotaan Solo Raya yang terdiri dari 7 kabupaten kota yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Klaten. Metode penelitian yang akan digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif spasial untuk menganalisis dampak urbanisasi pada jasa ekosistem tahun 2020 di kawasan perkotaan Solo Raya. Jasa ekosistem yang akan dihitung ada empat jasa ekosistem produksi pangan, penyerapan karbon dan produksi oksigen, konservasi air, dan retensi tanah, dan tingkat urbanisasi diukur dari tiga aspek, yaitu pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi dan perluasan lahan terbangun.

Karst merupakan daerah yang tandus yang setiap tahunnya selalu mengalami permasalah kekeringan. Karakteristiknya yang unik menyebabkan air permukaan tidak berkembang dengan baik. Sumber utama air bersih yang mudah diakses adalah mataair, sehingga keberadaan mataair menjadi penting. Akan tetapi, daerah karst merupakan daerah yang rentan, termasuk didalamnya adalah mataair. Mataair di karst rentan terhadap pencemaran, akibat dari berkembangnya porositas sekunder secara intensif. Apabila tidak diperhatikan, maka tidak menutup kemungkinan terjadi degradasi kualitas air mataair, sehingga keberadaan sumber air menjadi terancam. Untuk itu perlu adanya arahan pengelolaan lahan yang tepat di tangkapan airnya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis kerentanan mataair terhadap pencemaran (2) Menganalisis faktor penyebabnya dan (3) Menentukan arahan konservasi di tangkapan mataair agar terjaga kelestariannya. Penelitian dilakukan di tangkapan air Mataair Kakap, yang dianggap representative karena merupakan mataair yang mampu menyuplai kebutuhan air bagi masyarakat. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh PDAM. Metode yang dilakukan menggunakan data ketinggian, kemiringan lereng, litiologi, zona infiltrasi, dan tanah. Teknik dalam metode ini adalah dengan memampatkan (overlay) lima layer peta yang memuat kelima variabel tersebut. Masing-masing varibel tersebut memiliki kelas dan skor sebagai berikut dalam tabel 1 sampai 5. Kemudian menggunkan data kualitas air yang keluar dari Mataair Kakap. Luaran penelitian berupa (1) artikel proseding internasional yang diselenggarakan di dalam negeri dan (2) e-book ber-ISBN yang diterbitkan oleh anggota IKAPI. TKT yang disasar adalah TKT 3.

Scroll to Top